
Seorang wali adalah kekasih Allah yang mampu menebar rahmah
di muka bumi. Ia membantu mereka yang dibutuhkan, mereka yang menangis kepada
tuhannya di malam-malam sunyi karena kepada tuhannyalah tumbuh keyakinan nasib
ditentukan.
Kisah ini menunjukkan penghargaan atas nilai kemanusiaan Gus Dur yang sangat
mendalam kepada rakyat kecil yang membutuhkan, yang telah diabaikan sehingga
Allah mengirimkan Gus Dur untuk memberi bantuan.
Sebagai tokoh yang dihormati, menerima undangan di berbagai daerah merupakan kegiatan
rutin. Suatu ketika, Gus Dur mendapat undangan ke kota Malang. Ia mampir dulu
ke kota Batu. Di tengah perjalanan, ia minta berhenti ketika terdapat seorang
penjual durian, membeli dua buah, tetapi anehnya, sang pedagang diberinya uang
segepok.
Yudhi, sang sopir yang menemani Gus Dur keheranan, beli dua durian saja kok
uangnya banyak banget. Biasanya kalau orang beli sesuatu, ditawar-tawar dahulu
sampai dapat harga yang cocok. Ini tanpa ba-bi-bu, langsung dikasih uang
banyak. Meskipun demikian, ia tak berani berkomentar apa-apa dan mengikuti
perintah Gus Dur untuk melanjutkan perjalanan ketika uang sudah diserahkan.
Namun rasa penasarannya tak hilang atas kejadian tersebut. Pertanyaan kenapa
penjual durian dikasih uang yang sangat banyak selalu muncul dalam hati. Tak
tahan atas rasa tersebut, beberapa hari kemudian, ia mendatangi penjual durian
tersebut untuk mencari informasi lebih lanjut. Tapi ternyata kedai durian
tutup.
Ia pun tambah penasaran, setelah tanya kiri-kanan, akhirnya alamat penjual durian
diketahui, posisinya di sebuah desa yang susah dilalui kendaraan, tapi sudah
terlanjur basah, ia pun bertekad menelusuri misteri ini.
Setelah dicari-cari, akhirnya ditemukan juga rumah tersebut. Begitu sampai,
pintu diketuk, tapi tidak ada penghuninya. “Ada apa gerangan” pikirnya dalam
hati.
Ia pun menanyakan ke tetangga rumah, ke mana perginya penghuni rumah. Lalu
dijelaskan bahwa pemilik rumah sedang mengantarkan istrinya untuk berobat.
Sudah lama belahan jiwanya sakit, tetapi tidak punya uang untuk berobat
sehingga dengan sangat terpaksa hanya bisa diam di rumah dan menjalani
pengobatan ala kadarnya.
Kepada tetangganya itu, ia pamitan untuk menjaga rumahnya karena akan ditinggal
selama beberapa hari. Ia pergi untuk mengobatkan istrinya setelah baru-baru
ini, dengan tiba-tiba didatangi oleh Gus Dur dan dikasih uang yang cukup
memadai untuk biaya pengobatan yang sudah lama didambakannya.
Yudhi pun hanya diam termagu setelah memahami kejadian tersebut dan makna yang
terkandung di dalamnya. Ia lalu menceritakan kronologi peristiwa sebelumnya
yang membuatnya sampai mencari-cari penjual durian ini.
Terima Kasih Mukafi Niam
Tidak ada komentar: