» » Buku Petunjuk Menjadi Kyai



Kitab Talimul Mutaalim
Diposting oleh : Nur rohman MD.SH
















Etika Santri Menurut al-Jarnuji.

Di lingkungan pesantren tradisional, yang menekankan pemahaman kitab-kitab salaf, seolah-olah kitab Ta’lim al-Mutaallim Thariq al-Taallum (Mengajar Metode Belajar kepada Santri) merupakan kitab kedua sesudah al-Qur’an. Studi seorang santri dianggap belum memenuhi syarat apabila ia belum mengaji kitab ini. Dan karena isi dan penyajiannya sedemikian rupa, kitab tersebut sering disebut sebagai “Buku Petunjuk Menjadi Kyai”. Sedang di kalangan pesantren-pesantren modern yang penekanan pemahaman terhadap kitab-kitab salaf agak kurang, kitab Ta’lim ini nyaris tidak populer, bahkan tidak kenal sama sekali. Dan agaknya pengaruh kitab ini yang sedikit membedakan “penampilan” antara alumnus pesantren tradisional dengan alumnus pesantren modern.

Siapa al-Jarnuji?

Kitab Talim itu sendiri ditulis oleh Syeikh al-Jarnuji.Namun siapa Syeikh al-Jarnuji? Dalam al-Munjid nama al-Jarnuji disebut singkat sekali. Yang agak membantu hal ini adalah keterangan yang terdapat dalam kitab al-A’lam (Tokoh-tokoh) karangan al-Zarkeli. Ditulis di situ bahwa al-Jarnuji adalah al-Nu’man ibn Ibrahim ibn Khalil al-Jarnuji, Taj al-Din.
Beliau adalah sastrawan (adib) yang berasal dari Bukhara. Semula berasal dari Zarnuj, suatu kawasan di negeri-negeri seberang sungai Tigris (ma wara`a al-nahr). Beliau antara lain menulis kitab al-Muwadhdhah Syarh al-Maqamat al-Haririyah, dan wafat pada tahun 630 H/ 1242 M. Al-Zarkeli tidak menuturkan di mana al-Jarnuji tinggal, namun secara umum al-Jarnuji hidup pada akhir periode Daulah Abbasiyah, sebab Khalifah Abbasiyah terakhir (al-Mu’tashim) wafat pada tahun 1258 M.
Di antara 14 bab yang terdapat kitab ini (istilah kitabnya, fashl) membahas metode belajar,membahas tentang keutamaan ilmu, motivasi belajar, memilih ilmu, guru, dan kawan, memuliakan ilmu dan ulama, dan lain-lain. Bahkan membahas hal-hal yang dianggap dapat mempercepat rizki, karena belajar tak pelak lagi memerlukan hal itu. Karenanya, kitab ini cenderung lebih tepat disebut sebagai kitab yang membahas etika santri, khususnya kepada guru-gurunya.

Di lingkungan pesantren, santri yang tidak sopan terhadap guru, ia akan segera dicap “tidak pernah mengaji kitab Ta’lim”. 
 
Al-Jarnuji menyitir ucapan Sayidina Ali, “ana ‘abdu man ‘allamani harfan, in sya`a ba’a, wa in sya`a a’taqa wa in sya’a istaqarra” (Saya adalah hamba orang yang pernah mengajarkan satu huruf kepada saya, apabila ia mau boleh menjualku, memerdekakanku, atau tetap memperbudakku”)

Al-Jarnuji menyebut kitabnya sebagai metode belajar, sedangkan kajiannya banyak membahas etika. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah etika itu sendiri merupakan salah satu metode untuk meraih ilmu?
Tampaknya di kalangan pesantren ada kecenderungan untuk menyebutkan bahwa etika santri, terutama kepada gurunya, merupakan salah satu perangkat untuk memperoleh ilmu. Kisah-kisah santri yang pada waktu nyantrinya menjadi khadam (pembantu) kyai, menjadi tukang ambil air, dan lain-lain, tiba-tiba setelah pulang muncul sebagai kyai yang alim, adalah cerita yang sangat populer di kalangan pesantren semata-mata karena keluhuran spiritual seorang kyai atau pendiri pesantren tersebut. Baginya masalah metode belajar tidak menjadi soal, yang penting setelah sekian lama menyantri kelak akan muncul sebagai kyai yang alim, berkat ‘barakah’ dari kyai tersebut. Kecendungan ini masih sangat berpengaruh di masyarakat. Tak heran kalau tokoh pesantren seperti H.M. Yusuf Hasyim, Pengasuh Pesantren Tebuireng, membuat istilah adanya “lembaga Barakah” di pesantren, ketika santri belajar hanya semata-mata mengharapkan barakah dari kyai atau pendiri pesantren. Adanya barakah sebenarnya tidak perlu dipersoalkan, sebab pengertian barakah adalah kebaikan atau manfaat yang berkembang. Dan dalam hal ini, hasil doa para kyai dan guru untuk para santrinya dapat disebut barakah. Hanya harapan santri untuk memperoleh barakah hendaknya tidak mengurangi usahanya dalam belajar secara lahiriah. Dengan demikian, santri dalam satu saat harus menyatukan antara usaha (ikhtiar) dan doa.

Tentang Buku Judul : Ta’lim al-Muta’allim Thariq al-Ta’allum
Penulis : al-Nu’man ibn Ibrahim al-Khalil al-Jarnuji
Penerbit : Dar al-Kutub al-Islamiyyah
Tebal : 96 hlm.

About Raden Santri

Ingsun niki sanes Kyai dudu jawara, mung wong desa sing seneng kyai.

"saya hanyalah seorang santri dari sebuah pondok pesantren disebuah desa, bukan ahli agama, bukan pula jawara. Aku hanyalah seorang santri dari para kyai"

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply